Select Menu

clean-5

Wisata

Budaya

Kuliner

Kerajaan

kota

Suku

Jangan Remehkan Sepotong Pisang

JAKARTA : Pisang yang kerap kita anggap buah murahan, ternyata syarat khasiat. Boah tropis ini telah digunakan sebagai obat di seluruh dunia selama berabad-abad. Dikenal dalam bahasa Latin sebagai Musa sapienta, pisang sebenarnya tidak hanya sekadar buah, tetapi juga "obat" herbal. Dikonsumsi sendiri atau dipadupadankan dengan tetumbuhan lain, pisang dapat mengobati aneka penyakit. Sebut misalnya bisul, asma, hingga penyakit mata.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pisang dapat menurunkan tekanan darah serta mencegah kanker usus besar. Dan sstt...sarat nutrisi dan serat, pisang tidak hanya buah yang mengenyangkan, tetapi juga obat kuat!

Nutrisi dan vitamin dalam pisang


Pisang mengandung vitamin A, vitamin B6, vitamin C, vitamin E, dan vitamin G. Buah ini mengandung mineral kalium, kalsium, magnesium, fosfor, dan selenium. Kalsium dan magnesium diperlukan untuk tulang kuat dan  mencegah insomnia. Penelitian juga menunjukkan bahwa selenium baik mencegah kanker dan masalah tiroid.

Kalium diperlukan untuk aneka fungsi dari setiap sel manusia, serta sel-sel dari setiap tumbuhan dan hewan yang hidup. Asupan harian yang disarankan adalah 4,7 gram, dan satu pisang saja menyediakan lebih dari 450 mg kalium. Sebuah pisang tunggal menyediakan sepertiga dari RDA vitamin B6.

Menurunkan tekanan darah

Sebuah studi di India menunjukkan bahwa dua buah pisang seminggu menurunkan tekanan darah sebesar 10 persen. Di Kasturba Medical College in Manipal, India, peneliti membandingkan dua buah pisang dengan  obat hipertensi lain, yang disebut ACE-inhibitor. Pisang menunjukkan manfaat yang sama dalam menurunkan tekanan darah dengan obat itu, dengan manfaat lain: tanpa efek samping obat, yang dapat mencakup pusing, sakit kepala, dan cacat lahir. Pisang matang menunjukkan aksi lebih baik daripada yang mentah. Dalam penelitian lain, tujuh pisang sehari mampu menurunkan tekanan darah dalam waktu cepat.

Pisang dalam kombinasi dengan ramuan tertentu di  Afrika digunakan untuk mengobati katarak di Nigeria. Untuk sakit maag, kulit pisang digunakan untuk menyembuhkan keluhan ini secara permanen. The Dali Medical Centre di Cape Town, Afrika Selatan konon menggunakan pisang dengan susu kedelai dan rempah-rempah untuk mengobati katarak.

Anti-kanker usus besar

Pisang berisi jenis serat yang disebut pektin. Pektin merupakan jenis serat  terbaik untuk menghambat kanker usus besar. Pektin adalah serat larut, beda dengan serat tidak larut yang ditemukan di sebagian besar whole grain. Pektin juga terkandung dalam apel dan kentang. Satu pisang mengandung dua gram serat, hampir sepuluh persen dari dosis harian yang direkomendasikan, yang dua puluh lima gram.
Sumber : REPUBLIKA.CO.ID

Gambaran Rasisme Zionis Dalam Memerangi Simbol Keagamaan Palestina 48

Nahum Barniya
Tidak tersisa lagi selain, 200 mushaf Al-Qur’an yang dapat dikumpulkan personil kepolisian di dalam kantong plastic besar yang diangkut mobil polisi Israel. Dalam hitungan menit, masjid itu hanya terisisa atapnya saja, selaian fondasi dan ventilasi semen, bercampur dengan karpet. Tinggalah tumpukan sampah, akibat kebiadaban bulldozer-buldozer Zionis yang melululantakan sisa-sisa masjid yang ada di wilayah tersebut. Pasir, semen, dan besi beton teronggok bersama debu yang berterbangan.
Di Rahat, terdapat 55 ribu warga. Kebanyakan pura-pura tidur. Lampu di sejumlah rumah tampak tak menyala. Tirai-tirai yang biasanya tampak di jendela tak kelihatan lagi. Seolah tirai menjadi barang yang langka di kampong itu.
700 personil polisi dikirim ke Rahat. Semua yang datang ke tempat itu dengan satu tujuan, menghancurkan minimal satu bangunan. Jumlah ini sangat sedikit ketimbang yang dajukan para pakar untuk memprovokasi para polisi. Umumnya mereka memakai pakaian hitam-hitam, berselendang pentungan karet dan membentuk pagar manusia di sekitar Masjid Rahat.
Selain terdapat sejumlah mobil panser juga terdapat mobil untuk mengangkut warga yang tampak ketakutan di sekelilingnya. Namun dibelangnya tampak ratusan pemuda tak lebih dari 500 orang mengumandangkan kalimat takbir dan slogan “khaibar-khaibar ya yahud” mereka mengingatkan tentang bentrokan bersejarah antara Nabi Muhammad dengan bangsa Yahudi. Sebagian batu-batu berterbangan jatih di sekitar polisi, namun tidak ada satu yang mengenainnya. Neemtrok belum terjadi di sana.
Tidak tiap hari terjadi penghancuran masjid oleh kepolisian Zionis di tengah-tengah orang Arab, tidak juga terjadi tiap tahun dan secara langsung. penghancuran masjid Rahat terjadi berkat keputusan pemerintah Zionis yang merupakan hasil musyawarh antara perdana menteri Zionis dan menteri keamanan dalam negeri, Ishak Ahronovets. Eksekusi dilaksanakan, dua jam setelah Netanyahu bersama keluarganya mengnjungi Amerika. Demikian juga ketika proses eksiekusi terhadap kapal Mavi Marmara yang mengangkut bahan bantuan untuk Gaza, Netanyahu sedang berada di luar negeri. Dua eksekusi penyerangan dilakukan dalam waktu tak kurang dari jam setelah persetujuan Netanyahu.
Bangunan yang dihancurkan di wilayah 32 Rahat, bukan hanya masjid. Itupun bertentangan dengan undang-undang hasil mediasi dengan pihak Arab. Mereka juga mengancam akan menghancurkan ribuan bangunan lainya. baik yang umum maupun yang khusus.
Hanyalah Masjid Rahat yang katanya dibangun tanpa izin dari pemerintah. Selain itu, masjid ini dibangun oleh garakan Islam di wilayah Palestina 48 pimpinan Raed Shalah. Gerakan Raed Shalah inilah yang menciptakan hubungan tidak baik antara bangsa Yahudi dan Arab di Israel.
Salah satu senjatanya adalah isolasi, provokasi yang merupakan tujuan mereka dalam mengubah masyarakat Arab secara bertahap agar Israel menjadi tuan rumah di setiap distrik yang dihuni bangsa Arab.
Masjid Rahat bukanlah satu-satunya bangunan untuk memenuhi kebutuhan orang Islam dalam rangka menjalankan kewajiban agamanya berupa sholat, tetapi juga berfungsi sebagai pemberontakan terhadap hegemoni undang-undang Israel.
Pada 18 April lalu, kepala distrik Rahat telah menyampaikan pada pengadilan Zionis, bahwa dirinya membatalkan penghancuran masjid Rahat. Surat tembusanya sudah diberikan kepada Jenderal wilayah selatan yang berada di departemen dalam negeri Heller Sharah. Ia mengatakan, saya menolak rencana penghacuran ini, karena tekanan di masyarakat yang semakin hari semakin besar. Sebelumnya memang saya yang membuat keputusan penghancuran masjid, karena saya melihat bangunan ini didirrikan tanpa izin. Akan tetapi karena prosesnya ditunda-tunda terus, maka masjid ini menjadi salah satu masji terbesar di Rahat. Oleh karena itu, setiap upaya penghancuran dari pemerintah akan berhadapan dengan kekuatan rakyat yang besar pula. Bahkan tidak menutup kemungkinan akan mengaibatkan banjir darah.
Akibatnya bisa ditebak, bentrokan antara warga dan polisi tak terelakan lagi. Ini terjadi pada hari berikutnya dan di tempat lainya juga. Apa yang masuk ke Rahat akan keluar di Wadi Ara atau di Nazaret.
Menurut perkiraan, setelah meletusnya masalah armada Turki mendorong gerakan-gerakan Islam di wilayah selatan  terpengaruh dengan gerakan-gerakan Islam bagian utara. Maka kehancuran lambat laun akan mendekati dua gerakan ini. (asy)
Yedeot Aharonot 12/11/2010

Dua Umar dan Gempa Bumi

Suatu kali di Madinah terjadi gempa bumi. Rasulullah SAW lalu meletakkan kedua tangannya di atas tanah dan berkata, "Tenanglah … belum datang saatnya bagimu.'' Lalu, Nabi SAW menoleh ke arah para sahabat dan berkata, "Sesungguhnya Rabb kalian menegur kalian … maka jawablah (buatlah Allah ridha kepada kalian)!"

Sepertinya, Umar bin Khattab RA mengingat kejadian itu. Ketika terjadi gempa pada masa kekhalifahannya, ia berkata kepada penduduk Madinah, "Wahai Manusia, apa ini? Alangkah cepatnya apa yang kalian kerjakan (dari maksiat kepada Allah)? Andai kata gempa ini kembali terjadi, aku tak akan bersama kalian lagi!"

Seorang dengan ketajaman mata bashirah seperti Umar bin Khattab bisa, merasakan bahwa kemaksiatan yang dilakukan oleh para penduduk Madinah, sepeninggal Rasulullah dan Abu Bakar As-Shiddiq telah mengundang bencana.

Umar pun mengingatkan kaum Muslimin agar menjauhi maksiat dan segera kembali kepada Allah. Ia bahkan mengancam akan meninggalkan mereka jika terjadi gempa kembali. Sesungguhnya bencana merupakan ayat-ayat Allah untuk menunjukkan kuasa-Nya, jika manusia tak lagi mau peduli terhadap ayat-ayat Allah.

Imam Ibnul Qoyyim dalam kitab Al-Jawab Al-Kafy mengungkapkan, "Dan terkadang Allah menggetarkan bumi dengan guncangan yang dahsyat, menimbulkan rasa takut, khusyuk, rasa ingin kembali dan tunduk kepada Allah, serta meninggalkan kemaksiatan dan penyesalan atas kekeliruan manusia. Di kalangan Salaf, jika terjadi gempa bumi mereka berkata, 'Sesungguhnya Tuhan sedang menegur kalian'.''

Khalifah Umar bin Abdul Aziz juga tak tinggal diam saat terjadi gempa bumi pada masa kepemimpinannya. Ia segera mengirim surat kepada seluruh wali negeri, Amma ba'du, sesungguhnya gempa ini adalah teguran Allah kepada hamba-hamba-Nya, dan saya telah memerintahkan kepada seluruh negeri untuk keluar pada hari tertentu, maka barangsiapa yang memiliki harta hendaklah bersedekah dengannya."

"Allah berfirman, 'Sungguh beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan tobat ataupun zakat). Lalu, dia mengingat nama Tuhannya, lalu ia sembahyang." (QS Al-A'laa [87]:14-15).  Lalu katakanlah apa yang diucapkan Adam AS (saat terusir dari surga), 'Ya Rabb kami, sesungguhnya kami menzalimi diri kami dan jika Engkau tak jua ampuni dan menyayangi kami, niscaya kami menjadi orang-orang yang merugi."

"Dan katakan (pula) apa yang dikatakan Nuh AS, 'Jika Engkau tak mengampuniku dan merahmatiku, aku sungguh orang yang merugi'. Dan katakanlah doa Yunus AS, 'La ilaha illa anta, Subhanaka, Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim'."

Jika saja kedua Umar  ada bersama kita, mereka tentu akan marah dan menegur dengan keras, karena rentetan "teguran" Allah itu tidak kita hiraukan bahkan cenderung diabaikan. Maka, sebelum Allah menegur kita lebih keras,  inilah saatnya kita menjawab teguran-Nya. Labbaika Ya Allah, kami kembali kepada-Mu. Wallahu a'la
Sumber/republika.com

Hakikat Konflik, Sudahkah Terungkap Sekarang!?

Warga pendudukan Israel melakukan kerusakan di muka bumi. Mereka merusak pohon, tanaman, keturunan, menyita rumah dan membakar masjid dan mushaf Al-Quran. Rabi Israel dan bapak spiritual partai ekstrim Aovadia Yosep beberapa saat lalu mengeluarkan statemen melecehkan semua manusia dari bangsa dan etnis manapun. Ketika itu ia bicara bahwa tuhan - dalam pandangannya – hanya milik yahudi, bukan milik manusia lainnya. Manusia di sekeliling yahudi tanpa membedakan Arab, non Arab, Barbar, Amerika dan barat adalah binatang ternak dalam wujud manusia yang diciptakan untuk melayani yahudi. Sehingga sah bila mereka digunakan sebagai tameng manusia untuk menjaga serdadu yahudi.
Zionis berinovasi dengan ideologi baru yang khas dengan demokrasi gayanya sebagai entitas. Kemudian ia meminta kepada Palestina, Arab dan dunia untuk mengakuinya sebagai Negara yahudi dengan kekhususan etnis, rasis dan kelompoknya.
Belakangan, sejak barat mendirikannya dengan segala fasilititas yang diberikan, Israel mengumumkan dirinya memiliki reactor nuklir. Kemudian menyatakan dengan penuh pongah bahwa nuklir itu bukan untuk tujuan damai atau penelitian dan pengembangan namun untuk tujuan militer. Bahkan ia siap menghadapi dunia dari Korea hingga Iran.
Sementara Amerika menyatakan bahwa Sudah selatan sudah dipastikan melakukan referendum (disintegrasi) meski dengan kekuatan.
Belakangan lagi dokumen resmi militer dan keamanan resmi diungkap oleh situs Wikileaks. 400 ribu dokumen itu mengungkap skandal tersembunyi kejahatan Amerika dan barat di Irak dan para agennya (juru kebebasan) yang hidup di pangkuan Amerika dan barat. Dokumen itu menelanjangi mereka dari gelar kebesaran, pemimpin, nasionalise, guru besar karena menggelar aksi pembunuhan, penghancuran, pembantaian dan pemerkosaan yang bertentangan dengan semua undang-undang dan piagam kemanusiaan. Sementara di sisi lain, tingkat kepedulian terhadap masalah Palestina dari media Arab dan politik menurun. Sementara Otoritas Palestina secara mentah menerapkan 14 pasal Peta Jalan Damai yang dibuat Tim Kuartet dengan harapan penuh 'keikhlasan' kepada Amerika untuk bisa menekan Israel menerapkan 14 pasal sebaliknya. Namun tak ada satupun pasal yang diterapkan Israel sejak 16 tahun sejak pasal-pasal itu dibuat Tim Kuartet Internasional. Meski demikian, koordinasi keamanan dan kerjasama antara otoritas Palestina (pimpinan Abbas) dan Israel terus berlanjut mengejar perlawanan, memblokade Gaza, yang didukung sebagian Negara Arab dan dilanjutkan dengan perundingan.
Dari realitas di atas bisa disimpulkan.
1.       Klaim peradaban dan budaya demokrasi barat tidak seperti yang diimpikan oleh orang-orang yang cekak pengetahuan dari kalangan intelek kita. ternyata berbeda antara demokrasi dalam teori dan praktik. Beda penerapannya di barat untuk barat, dan di barat untuk timur (Arab dan dunia Islam). Artinya, dalam menghadapi pemikiran Islam, gagasan Syura, menghormati pendapat dan kebebasan, kesamaan suara, barat lihai dalam berteori soal demokrasi. Namun barat tidak bisa memberikan contoh. Akhirnya mereka juga menganulir perbedaan jender, warna kulit dan tingkat pendidikan, ekonomi di barat itu sendiri. Lihat misalnya, apakah jumlah perempuan di pucuk pimpinan dan cabinet di barat seimbang dengan jumlah yang diwakilinya?
Bagaiman barat memperlakukan kita dalam masalah-masalah yang terkait dengan kepentingan mereka atau bukan kepentingan mereka? Di satu sisi mereka ngotot soal disintegrasi di Selatan Sudan, tapi pada saat yang sama mereka tidak menghormati Sudan itu sendiri.
2.       Sejumlah realitas terungkap bahwa konflik di kawasan kita memiliki empat ciri; pertama, hubungan barat dan kita adalah kontradiksi dan hubungan konflik. Artinya, barat selalu menjadi hakim. Sementara di kalangan warga sipil barat lebih banyak dipengaruhi pikiran oleh media yang dikuasai lobi zionis. Tentu masih orang baik-baik seperti George Gollawau pahlawan kapal-kapal penembus dan kebebasan blockade Gaza atau sebagian aleg-aleg di parlemen, jurnalis dan intelek barat. Kedua, konflik itu hampir hilang dari kesadaran kita, namun semakin kuat kesadaran konflik itu di pihak musuh kita. Entah karena rayuan waham perdamaian atau pembenaran dalam menggelar kejahatan. Misalnya, dokumen yang digelar Wikileaks, dinilai oleh sebagian pemikir kita sebagai upaya konspirasi membidik Nuri Maliki.
Ketiga, di mata lawan kita, konflik itu dianggap sebagai konflik agama dan eksistensi (karena perbedaan dan fanatisme) serta persiapan untuk menghadapi perang Armagedon dimana jutaan dari kita akan terbunuh; seperti kata mitos Taurat dan para pendahulu Amerika seperti Bush dan Reigen. Anehnya, justru kita umat Islam dan Arab seakan haram – dalam konfrontasi ini – menyebut-nyebut agama kita.
Lihat bagaimana rabi-rabi yahudi menjadi pemimpin di negeri mereka, kita lihat bagaimana barat melakukan kekerasan dan perusakan terhadap menara-menara Islam, hijab wanita muslimah, Nabi Islam Muhammad Sallallahu Alaihi wa Sallam, bagaimana Angelia Mircel, presiden Jerman memberikan penghargaan kepada kartunis Denmark yang menistakan Rasulullah.  
Cirri keempat, ini adalah konflik abadi bagi kita dan bagi mereka. Konflik itu hanya berakhir jika salah satu kelompok kalah dan meninggalkan daerah konfrontasi. Jika Jerusalem (Al-Quds Terjajah) dianggap musuh sebagai "garis merah" maka bagi kita juga demikian, demikian juga Palestina. Sayangnya justru di antara kita mengira perundingan menjadi solusi, padahal sejak Israel berdiri selama puluhan tahun, pengalaman pahit kita dengan perundingan tidak pernah memberikan pelajaran.
3.       Realita lain, umat Islam ini mampu mewujudkan kemenangan dan siap melakukannya. Gaza dan Hamas adalah contoh, demikian juga Libanon dan perlawanan Islam di sana, juga perlawanan Irak, Afganistan dan Somalia. Hanya saja, keberhasilan perlawanan dalam mewujudkan kemenangan atau capaian penting terkait erat dengan "eksistensi masyarakat yang melindungi perlawanan dan membelanya". Bukan kebetulan jika sejumlah kemenangan perlawana terwujud padahal tidak ada Negara sentral yang kuat. Ini menegaskan, perimbangan kekuatan perlawanan dan gerakan pembebasan tidak selalu berbarengan dengan adanya Negara resmi.
Ini yang harus dipahami. Akhirnya, jika sudah banyak fakta dan data terkuat soal konflik ini, barangkali kita perlu berusaha untuk meyakinkan lagi kepada khalayak bahwa bahwa fakta itu ada. Apakah kita sadar atas realitas dan fakta konflik itu yang ada di sekitar kita?? (bn-bsyr)
Adnan Salim Abu Halil
Sumber/infopalestina.com

Dialog Strategis Israel - Amerika Incar Habisi Negara-negara Arab

Informasi mengenai pertemuan dialog strategis antara Israel dan Amerika di Wasington pada 20 Oktober lalu sangat ringkas. Kabar yang didapat media internasional terbatas pada beberapa nama utusan dari dua belah pihak, dialog dilakukan setiap enam bulan dan pertemuan terakhir dilakukan di Tel Aviv pada Februari lalu dengan tema penting ancaman nuklir Iran. Tentu hal ini menegaskan komitmen Amerika menjaga keamanan Israel yang berarti secara teknis mewujudkan Israel sebagai negara paling unggul secara militer atas tetangganya dari negara-negara Arab yang dekat atau yang jauh, juga terhadap negara-negara di luar Arab, seperti; Iran dan Turki, dan menopang Israel secara esklusif dengan senjata penghancur masal di antaranya senjata nuklir.
Dalam penjelasan singkat setelah pertemuan berlangsung disebutkan, bahwa Amerika dan Israel komitmen menjalin kerjasama untuk memperkuat keamanan dan stabilitas dua kawasan. Dialog kali ini terbatas pada metode kerjasama yang kuat dalam konteks kepentingan bersama di kawasan. Pertanyaan yang muncul, bagaimana mungkin dialog strategis Amerika dengan Israel untuk kepentingan bersama? Bagaimana mungkin Amerika mempersenjatai Israel dengan senjata nuklir dan pesawat kargonya untuk kepentingan “bersama” padahal di kawasan terdapat Arab, Turki dan Iran? Bagaimana Amerika mendanai pembangunan pemukiman Yahudi di wilayah Palestina dengan jaminan hutang untuk kepentingan Israel menyita tanah Palestina, menghancurkan rumah warganya, mengusir mereka dari negerinya, melakukan kejahatan perang, pemusnahan, pembersihan etnis mirip dengan pembersihan penduduk asli di Amerika, Kanada, Australia dan Amerika Selatan? Siapakah mereka yang mengkalim “Bersama” yang akan mengambil manfaat dari kerjasama strategi Amerika-Israel, kerjasama dalam sektor perang, pembangunan pemukiman Yahudi, sabotase intelijen terhadap semua negara di Timur Tengah, kerjasama mempertahankan keunggulan militer Israel, untuk menutupi kejahatannya menghancurkan keamanan Palestina, sumber usaha, kehidupan, hak-hak dan cara mempertahankan hidup mereka?
Dalam berinteraksi dengan informasi ini nampak jelas, betapa canggih media mereka mengemas informasi tanpa terdeteksi, supaya tidak ada seorangpun dari korban mereka mengendus sejauhmana kerjasama strategis antara Amerika dan Israel terhadap permusuhan dan pembersihan etnis Palestina, tercermin dalam blokade dan larangan rakyat Palestina menikmati kebebasan, demokrasi dan HAM! Secara otomatis membuktikan bahwa Amerika tidak pernah dan tidak akan pernah suatu waktu menjadi penengah yang netral untuk merealisasikan perdamaian dan keadilan menyeluruh. Ini menegaskan kegagalan proses perdamaian selama dua puluh tahun berlalu, karena Amerika sebagai pemantau di lapangan menjadi tertawan oleh dialog strategis dengan kekuatan penjajah Israel. Amerika berperan sebagai wasit, dan di lapangan justru membantu Israel sebagai kawan strategisnya dalam menghancurkan kehidupan rakyat Palestina, mengancam negara-negara tetangga, menebarkan peperangan dan instabilitas di Timur Tengah dengan target memelihara keunggulan militer Israel.
Hubungan hakiki antara Amerika dan Israel, keduanya berpartisipasi dalam politik di kawasan. Mereka telah mendiskusikan semua persoalan terkait perang, pembangunan pemukiman Yahudi, mengancam negara-negara kawasan, memecah negara-negara Arab dan menghancurkan satu demi satu dengan perang, fitnah internal, atau isolasi, di atas meja dialog strategis atara keduanya sebelum eksekusi bersama, baik di Irak, Palestina, Libanon, Sudan, Iran, Afghanistan atau Yaman. Termasuk mempersenjatai beberapa negara dengan catatan tidak mengancam Israel. Bahkan pegawai pemerintah Amerika memantau penyerahan sesuai persetujuan Israel dan politiknya terhadap Iran, Palestina dan persoalan lainnya. Dan tidak mungkin menunjuk mereka jika posisi mereka bersebrangan dengan kepentingan Israel. Mereka saat ini yang dikejutkan dengan ketidakmampuan pemerintah Obama merealisasikan upaya perdamaian di Timur Tengah hendaknya membaca kembali makalah berjudul “Berita Gembira tentang janji Obama” disiarkan harian Jewish Issues Watchdog (24/11/2008) yang isinya antara lain:
“Ada beberapa pertanyaan seputar penentuan pejabat pada pos-pos penting di pemerintahan Obama terkait pandangan mereka seputar Israel, Iran, Palestina dan persoalan lainnya. Saat ini saya tegaskan beberapa sebab meyakinkan bahwa tim berikutnya akan membawa hal-hal positif di Timur Tengah. Saat ini setelah dua tahun dari sejarah tersebut, kita tahu bahwa “Hal-hal positif” tersebut adalah Yahudisasi negara, percepatan pembangunan pemukiman Yahudi, penggusuran rumah-rumah warga Palestina di Al-Quds Timur, penerbitan UU di Knesset yang memaksa warga Palestina membayar upah penghancuran rumah mereka sendiri, larangan bekerja di sektor pariwisata supaya tidak memperlihatkan sesuatu berciri Palestina, memaksa mereka bersumpah untuk negara Yahudi, yang berarti pembersihan etnis Palestina.
Berikut adalah dokumen yang diterbitkan oleh "The Wikileaks" tentang perang di Irak, menegaskan bahwa kejahatan yang dilakukan terhadap rakyat Irak sama seperti yang dilakukan Israel terhadap bangsa Palestina. Para pengamat menyatakan ketika perang Irak berlangsung, mereka tidak bisa membedakan apakah terjadi di Baghdad atau Al Quds, Gaza atau Najaf, Nablus atau Mosul, Jenin atau Fallujah karena semuanya meremehkan tempat-tempat suci, kehidupan manusia. Metode penghancuran dan penyiksaan di Abu Ghraib, dan Guantanamo adalah sama dengan yang digunakan secara luas di penjara Israel yang penuh dengan kejahatan yang memalukan dan menyedihkan, walaupun info ini bocor ke beberapa media, namun mereka tidak berani berbicara atau menuntut hukuman pelaku karena kerjasama strategis antara media Amerika dan Israel, dan mereka semua "bebas" untuk tidak mempublikasikan kejahatan yang dilakukan pemerintahnya melawan orang-orang Arab!
Pertanyaannya adalah siapa yang menghukum pembunuh dan penjahat perang jika Perserikatan Bangsa-Bangsa dan semua badannya, tetap di bawah hegemoni AS? (qm)
Dr. Busainah Syu’ban
(As Syarqul Qatriyah)
Sumber/infopalestina.com

Bangsa Rasis Haus Darah dan Babi-babi Arab

Emosi barat, terutama di Amerika dan Inggris tersulut setelah publikasi sejumlah dokumen perang Irak di Wikileaks. Bukan karena sedih atas ratusan ribu warga yang terbunuh dalam perang itu. Namun mereka khawatir publikasi menjadi ancaman atas pasukan “penjahat” mereka yang menduduki Irak. Tak ada satupun pejabat barat yang menangisi Irak atau mengecam tindakan brutal dan kejam yang dilakukan pasukan koalisi barat di Irak, atau mengatakan “satu kata baik” kepada seorang bocah Irak yang dibunuh oleh bom saat berada di dekapan ibunya. Justru yang mengganggu emosi mereka adalah perasaan dendam memuncak dalam diri warga Irak. Bahkan mungkin di kawasan Arab dan negara-negara Islam lainnya lainnya sehingga pasukan-pasukan barat akan mengalami celaka atau leher mereka ditodong pisau.
Selama dunia berbicara soal rasialisme dan diskriminasi berdasarkan warna kulit dan etnis atau kebangsaan atau lainnya, maka rasialime barat kali ini membuktikan rasialisme paling biadab dan rendahan terhadap bangsa Arab dan kaum muslimin. Mereka rindu membunuh warga Irak. Mereka menjadikan pembunuhan itu sebagai hiburan, kesenangan, dan kebanggaan. Lihat bagaimana pasukan Amerika yang menembaki warga untuk menguji siapa yang paling tepat bidikan tembakannya dan paling fokus dalam membunuh dan menumpahkan darah. Sesungguhnya mereka memperlakukan warga Irak, Afganistan, Pakistan, Palestina, Libanon, Mesir, Suriah seperti halnya serangga yang layak diinjak dengan sepatu atau menaikkan anggaran belanja dan membunuh dengan peluru. Sebelum ini mereka membunuh ratusan ribu bangsa Indian, bahkan jutaan, memperbudak bangsa kulit hitam, mencoba semua jenis methode peperangan. Kini mereka membantuan ratusan ribu warga Arab. Semua yang mereka anggap aib, mereka kejar. Mereka menikmati tindakan pembunuhan mereka. Mayat-mayat anak dan wanita menjadi permainan modern mereka untuk meringankan krisis kejiwaan mereka.
Tidak tanpak tanda-tanda barat ingin melepaskan rasismenya dan perasaan lebih hebat dari yang lain. Sangat jelas barat mendapatkan pelajaran rasisme sejak kecil dan terdidik di rumahnya untuk bertindak rasis dan menghinakan bangsa lain. Semua kecaman dan undang-undang anti rasisme tanpaknya tidak merepresentasikan hal riil. Seakan kecaman dan undang-udang itu mengatakan kepada kita; “Jangan condong kepada mereka yang bernyanyi tentang warisan budaya drakula; pahlawan melegenda Eropa dan Amerika.”
Ada problema kita Arab adalah perasaan lebih rendah di hadapan bangsa barat dan negara-negara barat. Faktornya adalah kita lebih memilih pasrah, bermalas-malasan, tidak mendiri, bergantung terus kepada orang lain,  menundukkan kepala kepada pemimpin diktator yang mendukung perang Irak dengan dana dan fasilitas dan lain-lain. Kitalah yang membukakan pintu-pintu kita bagi para agresor yang tamak itu, kita juga yang memberikan hal yang sakral kami kepada pelacur tanah air kita. Barangsiapa yang menetapkan dirinya sebagai manusia hina maka ia akan terus hidup sebagai pengecut.
Di pundak para ilmuwan umat, pemikirnya, akademisinya, pemimpin-pemimpinya terletak tanggungjawab besar yang akan ditanya oleh Allah, sejarah dan semua manusia. Yakni tanggungjawab berhadapan dengan pemimpin Arab otoriter, menghalangi kezhaliman barat dan pasukan penjajah. Mereka bertanggungjawab di membebaskan umat dari realitas pahit ini. Kita bangsa Arab menjadi bangsa paling hina di bumi yang dimangsa bangsa lain sampai kita menjadi mainan dan bahan tertawaan. Jika para penguasa berlaku otoriter dan tunduk kepada penjajah, maka ulama umat harus konsisten terhadap tanggungjawabnya menolong harga diri umat dan tempat sucinya. (bn-bsyr)
Dr. Abdus Sattar Qasim
Sumber/infopalestina.com 

Bangsa Rasis Haus Darah dan Babi-babi Arab

Emosi barat, terutama di Amerika dan Inggris tersulut setelah publikasi sejumlah dokumen perang Irak di Wikileaks. Bukan karena sedih atas ratusan ribu warga yang terbunuh dalam perang itu. Namun mereka khawatir publikasi menjadi ancaman atas pasukan “penjahat” mereka yang menduduki Irak. Tak ada satupun pejabat barat yang menangisi Irak atau mengecam tindakan brutal dan kejam yang dilakukan pasukan koalisi barat di Irak, atau mengatakan “satu kata baik” kepada seorang bocah Irak yang dibunuh oleh bom saat berada di dekapan ibunya. Justru yang mengganggu emosi mereka adalah perasaan dendam memuncak dalam diri warga Irak. Bahkan mungkin di kawasan Arab dan negara-negara Islam lainnya lainnya sehingga pasukan-pasukan barat akan mengalami celaka atau leher mereka ditodong pisau.
Selama dunia berbicara soal rasialisme dan diskriminasi berdasarkan warna kulit dan etnis atau kebangsaan atau lainnya, maka rasialime barat kali ini membuktikan rasialisme paling biadab dan rendahan terhadap bangsa Arab dan kaum muslimin. Mereka rindu membunuh warga Irak. Mereka menjadikan pembunuhan itu sebagai hiburan, kesenangan, dan kebanggaan. Lihat bagaimana pasukan Amerika yang menembaki warga untuk menguji siapa yang paling tepat bidikan tembakannya dan paling fokus dalam membunuh dan menumpahkan darah. Sesungguhnya mereka memperlakukan warga Irak, Afganistan, Pakistan, Palestina, Libanon, Mesir, Suriah seperti halnya serangga yang layak diinjak dengan sepatu atau menaikkan anggaran belanja dan membunuh dengan peluru. Sebelum ini mereka membunuh ratusan ribu bangsa Indian, bahkan jutaan, memperbudak bangsa kulit hitam, mencoba semua jenis methode peperangan. Kini mereka membantuan ratusan ribu warga Arab. Semua yang mereka anggap aib, mereka kejar. Mereka menikmati tindakan pembunuhan mereka. Mayat-mayat anak dan wanita menjadi permainan modern mereka untuk meringankan krisis kejiwaan mereka.
Tidak tanpak tanda-tanda barat ingin melepaskan rasismenya dan perasaan lebih hebat dari yang lain. Sangat jelas barat mendapatkan pelajaran rasisme sejak kecil dan terdidik di rumahnya untuk bertindak rasis dan menghinakan bangsa lain. Semua kecaman dan undang-undang anti rasisme tanpaknya tidak merepresentasikan hal riil. Seakan kecaman dan undang-udang itu mengatakan kepada kita; “Jangan condong kepada mereka yang bernyanyi tentang warisan budaya drakula; pahlawan melegenda Eropa dan Amerika.”
Ada problema kita Arab adalah perasaan lebih rendah di hadapan bangsa barat dan negara-negara barat. Faktornya adalah kita lebih memilih pasrah, bermalas-malasan, tidak mendiri, bergantung terus kepada orang lain,  menundukkan kepala kepada pemimpin diktator yang mendukung perang Irak dengan dana dan fasilitas dan lain-lain. Kitalah yang membukakan pintu-pintu kita bagi para agresor yang tamak itu, kita juga yang memberikan hal yang sakral kami kepada pelacur tanah air kita. Barangsiapa yang menetapkan dirinya sebagai manusia hina maka ia akan terus hidup sebagai pengecut.
Di pundak para ilmuwan umat, pemikirnya, akademisinya, pemimpin-pemimpinya terletak tanggungjawab besar yang akan ditanya oleh Allah, sejarah dan semua manusia. Yakni tanggungjawab berhadapan dengan pemimpin Arab otoriter, menghalangi kezhaliman barat dan pasukan penjajah. Mereka bertanggungjawab di membebaskan umat dari realitas pahit ini. Kita bangsa Arab menjadi bangsa paling hina di bumi yang dimangsa bangsa lain sampai kita menjadi mainan dan bahan tertawaan. Jika para penguasa berlaku otoriter dan tunduk kepada penjajah, maka ulama umat harus konsisten terhadap tanggungjawabnya menolong harga diri umat dan tempat sucinya. (bn-bsyr)
Dr. Abdus Sattar Qasim
Sumber/infopalestina.com